Ragam Tradisi Menyambut Idul Adha di Nusantara

Hari Raya Idul Adha memang menjadi salah satu hari besar di Indonesia selain Idul Fitri. Hari raya umat Islam ini diadakan salah satunya dengan memotong hewan kurban. Namun demikian, selain sekedar pemotongan hewan korban ternyata ada berbagai tradisi menyambut Idul Adha yang ada di Indonesia. Banyaknya perayaan ini bisa menjadi inspirasi bagi kamu untuk mengunjungi daerah-daerah tersebut untuk merasakan antusiasme perayaan yang dilaksanakan.

Jika kamu penasaran, simak penelusuran Caption di bawah ini :

Kaul dan Abda’u di Maluku Tengah

Video oleh: Eddie Likumahua via https://www.youtube.com/

Kaul dan Abda’u adalah tradisi dari masyarakat Tulehu di Maluku Tengah untuk memperingati Hari Raya Idul Adha. Tradisi menyambut Idul Adha ini sebenarnya adalah acara puncak dari serangkaian  parade budaya yang dilakukan sebelumnya. Masyarakat setempat meyakini bahwa tradisi ini sudah dijalankan sejak ratusan tahun lalu setiap seusai sholat Idul Adha.

Prosesi Kaul adalah upacara penyembelihan hewan kurban yang terinspirasi dari kisah kurban Nabi Ibrahim. Dalam upacara Kaul di Tulehu, ada tiga kambing yang disembelih, yaitu satu kambing inti dan dua kambing pendamping. Ketiga kambing tersebut akan digendong oleh pemuka adat dan agama, kemudian dibawa berkeliling dengan diiringi dzikir dan salawat. Arak-arakan akan menuju Masjid Negeri Tulehu untuk melakukan upacara penyembelihan kambing di pelataran masjid.

Sementara itu, Abda’u adalah ritual adat yang diikuti oleh ratusan pemuda Tulehu.Sedikit mirip dengan tradisi berebut tumpeng di Solo dan Yogyakarta, pada ritual adat ini ratusan pemuda akan berebut bendera yang diikatkan pada tongkat bambu setinggi 2 meter. Prosesi perebutan bendera ini akan berlangsung sambil berkeliling dan akan berakhir di Masjid Negeri Tulehu. Prosesi ritual Abda’u adalah simbol dari pengabdian seorang hamba pada Allah.

Tumpeng Sewu di Banyuwangi

Video oleh: Bayucindih Creative via https://www.youtube.com/

Tradisi menyambut Idul Adha yang unik ternyata juga dilaksanakan oleh warga suku Osing di Banyuwangi. Tradisi bernama ‘Tumpeng Sewu’ telah dilaksanakan turun temurun oleh suku yang merupakan penduduk asli Banyuwangi ini. Tumpeng sewu adalah perwujudan rasa syukur masyarakat Osing kepada Tuhan. Tradisi Tumpeng Sewu diselenggarakan di Desa Kemiren setiap seminggu menjelang Idul Adha.

Dalam tradisi ini setiap rumah di Desa Kemiren akan membuat nasi tumpeng dengan lauk khas suku Osing. Lauk tersebut berupa pecel pitik yaitu ayam panggang dengan bumbu parutan kelapa. Pemilihan lauk ini memiliki filosofi untuk mengajak masyarakat untuk bersyukur dan berhemat. Tradisi Tumpeng Sewu seperti selamatan pada umumnya, selain sebagai ucapan syukur juga sebagai permohonan agar masyarakat dihindarkan dari bencana dan penyakit.

Jika kamu berkunjung ke Desa Kemiren pada saat perayaan Tumpeng Sewu, kamu dapat menikmati makanan yang disediakan warga tanpa biaya. Kamu juga dapat berbaur dengan warga setempat untuk menikmati tradisi ini bersamaan dengan tradisi lainnya seperti tradisi Mepe Kasur dan Ngarak Barong.

Grebeg Besar di Yogyakarta

tradisi menyambut idul adha di Jogja

Foto oleh: Ananto Wibowo via https://www.flickr.com/

Tradisi menyambut Idul Adha yang satu ini termasuk salah satu yang ditunggu-tunggu oleh warga setempat. Upacara Grebeg Besar yang diadakan di Yogyakarta sudah terkenal tidak hanya sebagai perayaan adat saja, namun juga sebagai destinasi wisata bagi para wisatawan dalam maupun luar negeri. Jika kamu akan berencana untuk berkunjung ke kota Jogja, jangan lupa untuk turut serta dalam perayaan yang diadakan satu tahun sekali ini.

Perayaan Idul Adha yang diselenggarakan oleh Keraton Kasultanan Yogyakarta ini terdiri dari acara perarakan gunungan dari dalam keraton menuju masjid besar, yang kemudian dilanjutkan dengan acara perebutan gunungan oleh masyarakat di halaman masjid besar.

Gunungan sendiri adalah salah satu elemen utama dalam upacara Grebeg. Gunungan terdiri dari hasil bumi yang terdiri dari sayuran, buah serta berbagai macam kue yang disusun dengan bentuk menyerupai gunung dengan tinggi sekitar 2 meter. Simbol utama Grebeg ini memiliki makna sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan.  Setelah gunungan selesai didoakan di halaman masjid besar, masyarakat akan berebut meraih hasil bumi yang terdapat dalam gunungan. Sebagian besar dari mereka percaya bahwa dengan berhasil mendapatkan hasil bumi dari gunungan, mereka kan mendapat berkah bagi kehidupan mereka.

Itulah beberapa tradisi merayakan hari raya Idul Adha yang unik di berbagai daerah di Indonesia. Apakah kamu sudah pernah menyaksikan tradisi-tradisi tersebut? Jika belum kamu mungkin dapat merencanakan untuk berkunjung dan menyaksikan tradisi tersebut.

0 Comments

Leave A Comment

Your email address will not be published.